?>
Sejarah singkat Propinsi Sulawesi Tengah. Propinsi terbesar dipulau Sulawesi adalah Sulawesi Tengah dengan luas daratan 68,033 kilo meter persegi dan wilayah laut 189,480 kilometer persegi,terletak dibagian barat kepulauan malukudan bagian selatan Negara Filipina. Secara administratif terbagi dalam Sembilan kabupaten dan satu, kota yakni kabupaten Donggala, parigi Moutong , poso, morowali,Tojo unauna, Banggai, banggai kepulauan Tolitol, Buol dan Sigi serta kota palu. Jumlah penduduk Sulawesi Tengah 2.875.000 jiwa sesuai sensus penduduk tahun 2007.
Karena letaknya yang strategis, pelabuhan – pelabuhannya menjadi tempat persinggahan kapal-kapal portugis dan spanyol lebih dari 500 tahun yang lampau. Pada bulan januari 1580, pengeliling dunia Sir Francis Drake dengan kapalnya The Golden Hind pernah singgah disalah satu pulau kecil dipantai timur propinsi ini selama sebulan. Meskipun tidak ada catatan sejarah, bukti persinggahan pelaut-pelaut Portugal dan Spanyol di negeri ini masih ada seperti pada bentuk pakaian masyarakat hingga dewasa ini.
Setelah dikuasai oleh belanda pada tahun 1905, Sulawesi tengah dibagi menjadi beberapa kerajaan kecil dibawah kekuasaan raja-raja yang memiliki kewenagan penuh. Pemerintahan belanda membagi Sulawesi tengah menjadi tiga daerah yaitu wilayah barat yang dikenal dengan kabupaten Donggala dan Beol Tolitoli yang berada dibawah kekusaan gubernur yang berkedudukan dimakasar, Sulawesi selatan. Dibagian tengah yang membujur di kawasan timur laut yakni sebagian Donggala dan bagian selatan poso berada dibawah pengawasan Residen di manado, Sulawesi utara. Sedangkan bagian timur Sulawesi tengah terdiri atas kabupaten Banggai dan Banggai kepulauan yang berada dibawah kendali Buton, Sulawesi Tenggara.
Pada tahun 1919, raja-raja yang masih berkuasa dibawah pemerintahan Belanda menanda-tangani suatu perjanjian yang disebut Korte Verklaring Renewcame. Perjanjian ini untuk meemperbaharui perjanjian mereka dimana seluruh daerah Sulawesi Tengah dipercaya kepada kekuasaan residen Sulawesi Utara.
Setelah perang dunia II, Propinsi Sulawesi Tengah dibagi menjadi beberapa bagian dan sub-bagian. Pada tanggal 13 april 1964 terbentuk propinsi Sulawesi tegah sejak saat itu memiliki pemerintahaan sendiri dan hingga kini tanggal 13 april diperingati sebagai lahirnya propinsi Sulawesi Tengah.
DARATAN
Sulawesi merupakan pulau terbesar ke-5 di Indonesia setelah papua, Kalimantan dan Sumatra dengan luas daratan 227.654 km2. Bentuk unik menyerupai huruf K yang membujur dari utara kesalatan dan tiga semenanjung yang membujur ketimur laut, timur dan tenggara. Pulau ini dibatasi oleh selat makasar dibagian barat yang menjadikannya terpisah dari Kalimantan serta dipisahkan dari kepulauan Maluku oleh laut Maluku.
Pemerintah didaerah ini dibagi menjadi 5 propinsi yaitu propinsi Sulawesi utara,tengah, selatan,tenggara dan gorontalo. Sulawesi tengah merupakan propinsi terbesar dengan luas wilayah daratan 68.033 km2 yang mencakup semenanjung bagian timur dan sebagian semenanjung bagian utara serta kepulauan Togian di kepulauan di teluk Tomini dan pulau-pulau di Banggai kepulauan di Teluk Tolo. Luas wilayah laut mencapai 189.480 km2.
Hampir semua bagian propinsi ini bergunung-gunung (kira-kira 42,80% di atas ketinggian 500 M dari dari permukaan laut).dan puncak tertinggi adalah gunung nokilalaki yang mencapai 2.610 M. selain gunung Sulawesi Tengah memiliki beberapa sungai diantaranya sungai arung jeram, sungai gumbasadan sungai palu. Juga terdapat danau yang menjadi obyek wisata terkenal yakni danai poso dan danau Lindu.
Sulawesi tengah memiliki beberapa kawasan konservasi seperti suaka alam, suaka margasatwa dan hutan lindung yang memiliki keunikan flora dan fauna unik sekaligus menjadi obyek penelitian bagi para ilmuwan dan naruralis. Ibukota Sulawesi Tengah adalah palu. Kota ini terletak di teluk palu dan berbagai dua oleh sungai palu yang membujur dari lembah palu dan bermuara di laut.
PENDUDUK
Sulawesi Tengah didiami oleh 12 etnis atau suku yaitu :
Ada beberapa suku terasing yang hidup didaerah pengunungan,antara lain Suku Dala dikabupaten Donggala, suku Wana di Kabupaten Monowali, suku sea-sea dikabupaten Banggai dan suku daya di kabupaten Buol dan Toli-toli. Selain penduduk asli ada pula etnis lain dari Bali,Jawa,Nusa Tenggara Barat,Nusa Tenggara Timur serta Bugis dan Makasar yang sejak lama menetap dan membaur dengan masyarat setempat. Jumlah penduduk sulawesi tengah berdasarkan sensus penduduk tahun 2007 berjumlah 2.875.000 Jiwa.

Pertanian merupakan sumber utama mata pencaharian penduduk dengan padi sebagai tanaman utama. Kopi, kokoa dan cengkeh merupakan tanaman perdangangan unggulan daerah ini dan hasil hutan berupa rotan beberapa macam kayu seperti agates,ebony dan meranti yang merupakan andalan sulawesi tengah.
AGAMA
Penduduk Sulawesi Tengah sebagian besar beragama Islam dengan persentase 72,36 % pemeluk agama Kristen 24,51%, pemeluk agam hindu dan Budha 3,13%.
Penyebaran agama Islam di Sulawesi Tengah adalah Abdullah Raqile yang lebih dikenal dengan Dato Karamah seorang Ulama dari Sumatra Barat. Agama Kristen pertama kali disebarkan oleh Missionerisdari belanda yaitu A.C Cruyt dan Adrian diwilayah kabupaten Poso dan bagian selatan kabupaten Donggala. Sedangkan agama Hindu dan Budha dibawa oleh para transmigran asal bali.
BUDAYA
Sulawesi Tengah kaya akan Budaya yang diwariskan secara turun menurun. Tradisi yang menyakut aspek kehidupan dipelihara dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Kepercayaan lama adalah warisan budaya yang tetap terpelihara dan dilakukan dalam beberapa bentuk dengan berbagai pengaruh modern serta pengarug agama.
Karena banyak kelompok etnis mendiami Sulawesi Tengah, maka terdapat pula banyak perbedaan di antara etnis tersebut yang merupakan kekhasan yang harmonis dalam masyarakat. Mereka yang tinggal di pantai bagian barat kabupaten Donggala telah bercampur dengan masyarakat Bugis dari Sulawesi Selatan dan masyarakat Gorontalo.
Ada juga pengaruh dari Sumatera Barat seperti nampak dalam dekorasi upacara perkawinan. Kabupaten Donggala memiliki tradisi menenun kain warisan zaman Hindu. Pusat-pusat penenunan terdapat di Donggala Kodi, Watusampu, Palu, Tawaeli dan Banawa. Sistem tenun ikat ganda yang merupakan teknik special yang bermotif Bali, India dan Jepang masih dapat ditemukan.
Sementara masyarakkat pegunungan memiliki budaya tersendiri yang banyak dipengaruhi suku Toraja, Sulawesi Selatan. Meski demikian, tradisi, adat, model pakaian dan arsitektur rumah berbeda dengan Toraja, seperti contohnya ialah mereka menggunakan kulit beringin sebagai pakaian penghangat badan.
Rumah tradisional Sulawesi Tengah terbuat dari tiang dan dinding kayu yang beratap ilalang hanya memiliki satu ruang besar. Lobo atau duhunga merupakan ruang bersama atau aula yang digunakan untuk festival atau upacara, sedangkan tambi merupakan rumah tempat tinggal. Selain rumah, ada pula lumbung padi yang disebut gampiri.
Buya atau sarung seperti model Eropa hingga sepanjang pinggang dan keraba-semacam blus yang dilengkapi dengan benang emas. Tali atau mahkota pada kepala diduga merupakan pengaruh kerajaan Eropa. Baju banjara yang disulam dengan benang emas merupakan baju laki-laki yang panjangnya hingga lutut. Daster atau sarung sutra yang membujur sepanjang dada hingga bahu, mahkota kepala yang berwarna-warni dan parang yang diselip di pinggang melengkapi pakaian adat.
Untuk menyaksikan sebagian atraksi budaya di Sulawesi Tengah dapat kita jumpai di Festival Danau Poso (Calendar Event) yang diselenggarakan pada bulan Agustus setiap tahunnya.
KESENIAN
Masyarakat Sulawesi Tengah memiliki Kesenian Tradisional yang beragam antara daerah satu dengan lainnya, antara lain alat musik Tradisional seperti Suling, Gendang, Gong, Kakula, serta Lalove.Tari masyarakat yang terkenal adalah Dero yang berasal dari masyarakat Pamona, Kabupaten Poso, dan masyarakat Kulawi Kabupaten Donggala.
Beberapa kesenian yang sampai sekarang masih digemari masyarakat, dan diselenggarakan pada waktu-waktu tertentu misalnya:

IKLIM
Garis khatulistiwa yang melintasi semenanjung bagian utara di Sulawesi Tengah membuat iklim daerah ini tropis. Akan tetapi berbeda dengan Jawa dan Bali serta sebagian pulau Sumatera, musim hujan di Sulawesi Tengah antara bulan April dan September sedangkan musim kemarau antara Oktober hingga Maret. Rata-rata curah hujan berkisar antara 800 sampai 3,000 milimeter per tahun yang termasuh curah hujan terendah di Indonesia.
Temperatur berkisar antara 25 sampai Celcius untuk dataran dan pantai dengan tingkat kelembaban antara 71 sampai 76%. Di daerah pegunungan suhu dapat mencapai 16 sampai Celcius.
FLORA & FAUNA
Binatang khas Pulau Sulawesi adalah Anoa yang mirip seperti Kerbau, Babi Rusa yang berbulu sedikit dan memiliki taring di mulutnya, Tersier, Monyet Tanlena Sulawesi, Kuskus Marsupial Sulawesi yang berwarna-warni dan merupakan varitas binatang berkantong, serta Burung Maleo yang bertelur pada pasir yang panas.
Hutan Sulawesi juga memiliki ciri tersendiri, didominasi oleh Kayu Agatis yang berbeda dengan Sunda Besar, didominasi oleh Pinang-Pinangan (Spesies Rhododendron).
Flora antara lain Damar (Aghatis Damara), Leda (Eucaliptus deglupta), Wanga (Figaletta Filaris) dan Kayu itam (Dyosphiros celebica) yang popular dengan nama Ebony yang menjadi symbol Flora Sulawesi Tengah.
Fauna terdapat 127 jenis antara lain anoa pegunungan (Anoa quarlessi), Babirusa (Babyroussa babirusa), Tarsius (Tarsius Spectrum), serta Musang Sulawesi (Macrogalidia muaschenbroekit), bermacam jenis Rotan (Calamus suv) dijumpai disemua type hutan.
Terdapat 227 jenis burung dimana 77 jenis merupakan endemik sulawesi antara lainAllo atau Rangkong (Rhyceras cassidix), Maleo (Macrocephalon maleo) yang menjadi symbol Fauna Sulawesi Tengah, serta kupu-kupu termasuk yang berwarna biru papilo Blumei.
DOMBU
Gunung Gawalise di barat kota Palu, kabupaten Donggala, berpotensi sebagai obyek wisata alam dan budaya yang menarik. Gunung Gawalise berjarak 34 kendaraan roda empat dalam kurun waktu 1jam 30 menit. Di gunung Gawalise terdapat desa Dombu yang terletak di ketinggian dan berhawa sejuk. Desa lainnya adalah desa Matantimali, desa Panasibaja, desa Bolobia dan desa Rondingo.
Desa-desa ini didiami oleh suku Da’a. Suku Da’a merupakan sub-etnis suku Kaili yang mendiami daerah pegunungan. Di desa-desa ini dapat disaksikan atraksi sumpit yang diperagakan oleh warga setempat. Rumah di atas pohon masih ditemukan di desa Dombu sampai sekarang.
Di Gunung Gawalise dapat dilakukan hiking/trekking dengan rute-rute Wayu-Taipanggabe-Dombu-Wiyapore-Rondingo-Kayumpia/Bolombia-Uemanje dalam waktu kurang dari 1 minggu.
Taman Nasional Lore Lindu
Taman Nasional Lore Lindu merupakan salah satu lokasi perlindungan hayati Sulawesi. Taman Nasional Lore Lindu terletak sekitar 60 kilometer selatan kota Palu. Luas Taman Nasional 217,991 hektar dengan ketinggian bervariasi antara 200 sampai dengan 2,610 meter diatas permukaan laut. Taman Nasional Lore Lindu memiliki fauna dan flora endemik Sulawesi serta panorama alam yang menarik karena terletak di garis Wallacea yang merupakan wilayah peralihan antara zona Asia dan Australia.
Taman Nasional Lore Lindu yang terletak di selatan kabupaten Donggala dan bagian barak kabupaten Poso menjadi daerah tangkapan air bagi 3 sungai besar di Sulawesi Tengah, yakni sungai Lariang, sungai Gumbasa dan sungai Palu.
Kawasan Taman Nasional Lore Lindu merupakan habitat mamalia asli terbesar di Sulawesi. Anoa, babi rusa, rusa, kera hantu, kera kakaktonkea, kukus marsupial dan binatang pemakan daging terbesar di Sulawesi, hidup di taman ini. Taman Nasional Lore Lindu juga memiliki paling sedikit 5 jenis bajing dan 31 dari 38 tikusnya, termasuk jenis endemik.






![]() | Today | 2719 |
![]() | Yesterday | 2903 |
![]() | This week | 13049 |
![]() | Last week | 18651 |
![]() | This month | 64198 |
![]() | Last month | 180317 |
![]() | All days | 397934 |
Anda dapat menghubungi kami :

|
: |
Jln. Samratulangi No. 101 Palu Sulawesi Tengah, Indonesia |
|---|---|---|
![]() |
: | 0451 - 451311 |
![]() |
: |
info@sultengprov.go.id |
Comments
terutama masalah objek pariwisata,, apa yang menjadi unggulan propinsi ini??
RSS feed for comments to this post